Tarian Tradisional Berasal Dari Jawa Tengah Yang Sangat Populer

Siapa yang tidak kenal dengan wilayah Jawa? Provinsi yang terbagi menjadi 3 bagian ini ternyata memiliki kisahnya tersendiri. Dibalik sejarahnya, Jawa berhasil menghasilkan berbagai karya Seni yang sekarang menjadi...

Siapa yang tidak kenal dengan wilayah Jawa? Provinsi yang terbagi menjadi 3 bagian ini ternyata memiliki kisahnya tersendiri. Dibalik sejarahnya, Jawa berhasil menghasilkan berbagai karya Seni yang sekarang menjadi salah satu kebudayaan Jawa yang dijaga kelestariannya seperti tarian tradisionalnya.

Setelah kamu ketahui tentang 7 Tarian Tradisional Khas Kalimantan, sekarang kita pindah ke Tarian Tradisional Khas Jawa, tepatnya Jawa Tengah. Katanya, sebagian tarian Jawa Tengah terkenal mistisnya. Apa benar? 7 Tarian Tradisional Dari Jawa Tengah:

1. Tari Bedhaya Ketawang

Tari Bedhaya Ketawang

Tarian tradisional pertama adalah Bedhaya Ketawang yang mengandung arti di setiap masing-masing kata. ‘Bedhaya’ yang artinya penari wanita dan ‘Ketawang’ artinya langit. Bila disatukan, Bedhaya Ketawang ini mengandung arti penari wanita dari istana langit.

Tarian ini dipertunjukan untuk acara resmi saja, yang bertujuan untuk menghibur. Sejarah tarian ini menceritakan tentang hubungan Ratu Kidul yang biasa kita kenal dengan Roro Kidul.

Menurut kepercayaan setempat, bila ada yang menarikan Tarian ini, maka Nyi Roro Kidul atau Kangjeng Ratu Kidul akan menghadiri tarian tersebut dan ikut menari.

Biasanya tarian ini ditarikan oleh 9 orang wanita, dimana sembilan ini melambangkan Wali Songo, adapun yang bilang 9 sebagai arah mata angin.

Busana para penari pun biasanya menggunakan pengantin adat Jawa, dimana para penari menggunakan gelung besar, dan aksesoris-aksesoris Jawa berupa centhung, sisir jeram saajar, tiba dhadha, garudha mungkur, dan cundhuk mentul. Para penaripun diusahakan tidak dalam keadaan haid.

Musik yang dimainkan untuk mengiringi tarian ini biasanya Gending Ketawang Gedge, bisa juga dengan gamelan.

2. Tari Gambyong

Tari Gambyong

Tari Gambyong berasal dari daerah Surakarta. Awalnya, tarian ini hanya sebuah tarian rakyat dan diadakan ketika memasuki musim panen padi. Sekarang, tarian tersebut diadakan saat acara sakral dan sebagai penghormatan pada tamu.

Sejarah nama Gambyong pun diambil dari salah satu penari tempo dulu, dimana penari tersebut memiliki suara merdu dan tubuh yang lentur, dengan kedua bakat tersebut Gambyong yang memiliki nama lengkap Sri Gambyong cepat terkenal dan dapat memikat banyak orang.

Hingga akhirnya nama penari itu terdengar ke telinga Sunan Paku Buwono IV, membuat Sri Gambyong diundang untuk menari ke dalam Istana. Ia pun berhasil memikat orang-orang di Istana, hingga akhirnya tariannya pun dipelajari dan dikembangkan hingga dinobatkan tarian khas Istana.

Untuk jumlah penari tidak disyaratkan, namun untuk kostum yang biasa digunakan adalah kostum kemben yang sebahu dilengkapi dengan selendang. Pada dasarnya tarian ini sangat identik dengan warna kuning dan hijau. Namun seiring zaman, warna pun tidak menjadi patokan.

Musik pengiring tarian ini biasanya gamelan seperti Gong, kenong, gambang dan kendang.

3. Tari Bondan Payung

Tari Bondan Payung

Tarian tradisional berikutnya adalah Tari Bondan yang berasal dari Surakarta.

Tarian ini menceritakan tentang seorang ibu yang menyayangi anaknya. Sehingga tariannya pun terbilang simpel. Ciri khas tarian ini adalah para penari yang selalu membawa payung, boneka bayi dan kendi.

Pada zaman dulu tarian ini harus ditarikan oleh para kembang desa yang bertujuan untuk menunjukkan jati dirinya. Gerakannya pun tidak dibilang rumit hingga datang sesi menegangkan ketika penari tersebut menaiki kendi, dan kendi itu tidak boleh pecah.

Kostum yang digunakan untuk tarian ini adalah pakaian adat Jawa. Seiring dengan zaman tari bondan pun dibagi menjadi 2, yaitu tari bondan mardisiwi, bondan tani dan bondan cindogo. Musik yang digunakan adalah Gending.

4. Tari Serimpi

Tari Serimpi

Tari Serimpi berasal dari Yogyakarta, konon katanya tarian ini sedikit bernuansa Mistis. Awalnya tarian ini ditunjukkan saat penggantian raja di beberapa Istana Jawa Tengah. Menurut cerita masyarakat, tarian ini dapat menghipnotis para penonton menuju ke alam lain.

Walau bagaimanapun, tarian ini bertujuan menunjukan wanita yang sopan santun dan sangat lemah gemulai.

Seiring dengan zaman, tari ini mengalami perubahan dari segi durasi tarian dan kostumnya. Tari Serimpi pun dibagi menjadi beberapa jenis diantaranya Serimpi Genjung, Serimpi Babul Layar, Serimpi Bondan, Serimpi Anglir Mendung dan Serimpi Dhempel.

Tarian ini biasanya ditarikan dengan 4 anggota penari wanita, hal ini menandakan unsur api, air, angin dan bumi. Namun seiring dengan zaman, jumlah penaripun terkadang menjadi 5 anggota.

Pakaian yang digunakan untuk penari Serimpi adalah pakaian yang biasa digunakan pengantin putri keraton. Sedangkan musik yang digunakan adalah gamelan.

5. Tari Beksan Wireng

Tari Beksam Wireng

Tari Beksan Wireng adalah tari yang berasal dari Jawa Tengah dan diciptakan oleh Prabu Amiluhur.

Tujuan diciptakannya tarian ini untuk menyemangati 4 prajurit perang yang saat itu sedang berlatih. Hal ini terlihat dengan gerakan-gerakan para penari yang gagah perkasa sedang membawa tombak dan tameng. Karena tarian ini memang mengandung tema perang.

Dengan berkembangnya zaman, tarian ini terbagi menjadi 6 jenis yaitu Panji Sepuh, Panju Anem, Dhadap Kanoman, Jemparing Ageng, Lhawung Ageng dan Dhadhap Kreta.

Biasanya tarian ini ditarikan oleh laki-laki dan menggunakan kostum bak seorang prajurit.

6. Tari Ebeg atau Kuda Lumping

Tari Ebeg atau Kuda Lumping

Tarian tradisional selanjutnya adalah tari ebeg atau tari yang biasa menggunakan boneka kuda.

Tarian ini tidak menunjukan tarian pada umumnya seperti tarian yang lemah gemulai.

Tarian ini tidak usah dipelajari, hanya melenggak lenggok mengikuti alur musik. Ada beberapa syarat yang harus disediakan selama pertunjukkan ini seperti sesaji dan menyan. Hal ini diharuskan karena para penari kemungkinan akan kerasukan mahkluk halus dan memakan barang-barang sekitar. Musik yang melatar belakangi tarian ini adalah gamelan banyumasan, bendhe dan gendhing.

7. Kethek Ogleng

Kethek Ogleng

Tarian tradisional yang satu ini bernama Kethek Ogleng, berasal dari bahasa Jawa yang bila diartikan ‘kethek’ adalah kera, Sedangkan Ogleng diambil dari suara bunyi yang melatar belakangi tarian ini seperti berbunyi Ogleeeng… Ogleeeng…

Tari Kethek Ogleng berasal dari Wonogiri, Jawa Tengah. Asal usul tarian ini menceritakan Raden Gunung Sari yang menjelma menjadi kera dan berusaha mengelabui musuhnya.

Maka dari itu, penarinya pun selalu bertopeng kera dan menirukan gerakan-gerakan kera, tidak ada gerakan khusus untuk tarian ini, penari hanya menikmati aluran musik dan menari layaknya seekor kera.

Biasanya penari Kethek Ogleng akan mengajak salah seorang penonton untuk berjoget bareng.

Categories
Pengetahuan

RELATED BY